Asertif untuk Komunikasi yang Lebih Baik

[quote]Asertif – Pernahkah anda sedang berbaris mengantri di kasir, lalu tiba-tiba seseorang menyela barisan Anda? Atau ketika sedang mengantri membayar listrik, seseorang mengambil tempat tepat di depan Anda? Rasanya pasti sangat menyebalkan.[/quote]

AsertifTetapi, berapa di antara kita yang berani menegur dengan sopan? Kebanyakan dari kita akan memaki orang tersebut dalam hati, “Dasar tidak tahu aturan, tidak tahu etika, tidak tahu artinya mengantri, saya di sini sudah sejam lebih, kamu seenaknya saja memotong barisan.”   Tidak jarang pula kita memandang orang tersebut dengan tatapan sinis atau menyindir dengan suara keras.

Saya pernah mengobservasi perilaku anak taman kanak-kanak. Mereka sedang berbaris di lorong kelas. Salah satu anak yang bernama Andre menyela barisan di depan. Anak tersebut berkata dengan nada yang biasa, “Andre, you cut my line. I don’t like it. Go back to your line, please!” Seketika itu juga Andre mengatakan “I am sorry” dan pergi ke barisan belakang. Tidak ada yang merasa sakit hati, mereka tetap bermain seperti biasa. Tidak ada yang mencela dan bersungut-sungut dalam hati, masalah terselesaikan saat itu juga

Inilah saatnya kita belajar asertivitas dari anak-anak. Asertif adalah sikap di mana seseorang berani mengungkapkan pikiran, pendapat, dan perasaan baik positif maupun negatif dengan tetap mempertahankan etika dan harga diri orang tersebut. Sikap asertif berbeda dengan agresif. Asertif adalah sikap kejujuran, objektif, dan tidak dipengaruhi oleh hal-hal yang bersifat emosional yang dapat menyakiti orang lain. Namun sayangnya, setelah menjadi dewasa, kita cenderung untuk menghindari sikap asertif dan memilih untuk diam, karena takut menyinggung orang lain, tidak etis menegur orang lain, atau tidak memiliki daya untuk mengatakan ‘tidak’ kepada orang lain

Perilaku asertif dapat menjauhkan kita dari tekanan perasaan dan perilaku agresif. Coba bayangkan, ketika Anda sedang asyik menonton televisi, tiba-tiba pasangan anda datang dan mengganti channel dengan acara yang ia sukai. Apa yang akan Anda katakan? Marah karena terganggu acara favorit Anda, atau Anda akan diam dan menekan perasaan sampai esok hari? Mengapa tidak mengatakan, “Saya sedang menonton acara yang saya sukai. Kamu mengganti channel tv, dan saya tidak suka karena acara saya jadi terpotong. Bisakah kita menonton acaramu setelah saya selesai menonton acara saya?”

Tidak mudah memang untuk menjadi asertif, apalagi jika anda terbiasa untuk diam menekan perasaan, namun untuk perubahan pribadi dan lingkungan yang lebih baik, mengapa tidak berlatih?

Melakukan kontak mata ketika berbicara, tidak membuang muka akibat perasaan marah.

Menyatakan emosi sesuai dengan verbal. Ketika ingin memberi pujian, lakukan dengan tersenyum. Ketika tidak menyukai tindakan seseorang, tunjukan dengan ekspresi wajah serius dan tegas.

Volume suara keras namun layak untuk didengar, tetapi bukan dengan nada tinggi.

Berani untuk menyatakan gagasan, ide, pikiran, dan perasaan kepada orang lain, baik positif maupun negatif. Setiap orang memiliki hak untuk bicara.

Berani untuk berkata ‘tidak’ dan ‘jangan’ dengan nada tegas dan ekspresi wajah yang sesuai. Seringkali karena perasaan takut dan rasa tidak enak menyakiti orang lain, bahasa verbal dan non verbal menjadi bertolak belakang. Mengatakan “Tidak, saya tidak mau melakukan hal tersebut” namun sambil tersenyum. Sehingga orang lain ragu mengartikan apa keinginan Anda.

Berikan alasan yang logis, singkat, dan jelas ketika melakukan penolakan.

Keuntungan bersikap asertif dengan menyatakan perasaan apa adanya, anda tidak dikendalikan oleh orang lain, menghindari konflik, dihargai oleh orang lain, dan ada kepuasan tersendiri ketika anda dapat melakukan sesuai dengan apa yang anda inginkan.

Isabella Floriana